JELAJAH.CO.ID,Makassar – Pergantian Rusdi Masse (RMS) dari pucuk pimpinan NasDem Sulawesi Selatan bukan sekadar rotasi elite partai. Ia adalah gempa politik. Dan Syaharuddin Alrif kini berdiri tepat di episentrum guncangan itu.
Masalahnya sederhana tapi pahit: RMS bukan hanya ketua DPW, ia adalah partai itu sendiri—setidaknya di Sulsel. Selama bertahun-tahun, NasDem tumbuh bukan sebagai institusi ideologis yang mapan, melainkan sebagai jaringan kekuasaan personal. Kursi DPRD, loyalitas kader, hingga mesin elektoral daerah lebih sering bergerak karena “RMS effect” ketimbang platform partai.
“Di titik inilah Syaharuddin Alrif menghadapi dilema klasik: menggantikan jabatan mudah, menggantikan pengaruh hampir mustahil,”ujar
Direktur Celebes Research Center (CRC), Saiful Bahrie saat dikonfirmasi melaluoli pesan WhatsApp, Sabtu 24 Januari 2026.
Menurutnya, Syaharuddin bukan figur lemah. Ia berpengalaman di birokrasi, memahami tata kelola pemerintahan, dan relatif bersih secara citra. Tetapi politik elektoral Sulsel bukan soal CV, melainkan soal siapa menguasai jaringan sosial-politik di kabupaten/kota. Dan jaringan itu, suka atau tidak, selama ini berlabuh pada Rusdi Masse.
Masalah yang lebih mendasar justru ada pada NasDem sendiri. Partai ini—seperti banyak partai lain—terlalu lama nyaman sebagai party of figure, bukan party of system. Ketika figur sentral pergi, struktur limbung, kader bimbang, dan arah menjadi kabur. Syaharuddin Alrif mewarisi bukan mesin yang siap pakai, melainkan puing-puing ketergantungan struktural pada satu nama besar.
Jika Syaharuddin hanya berperan sebagai caretaker, menjaga kursi dan merapikan administrasi sambil berharap waktu menyembuhkan luka, NasDem Sulsel hampir pasti akan mengalami erosi elektoral. Loyalitas dalam politik lokal tidak menguap perlahan; ia bisa berpindah cepat, senyap, dan masif.
Namun justru di situlah peluang historisnya. Syaharuddin hanya bisa “menang” jika berani melakukan sesuatu yang tidak pernah dilakukan RMS secara penuh: membunuh kultus figur dan membangun disiplin organisasi. Itu berarti merombak kepengurusan yang pasif, mempromosikan kader berbasis kerja elektoral—bukan kedekatan personal—dan menciptakan pusat-pusat kekuatan baru di daerah.
Risikonya besar. Akan ada resistensi. Akan ada kader yang pergi. Tapi tanpa langkah radikal, NasDem Sulsel hanya akan menjadi partai yang hidup dari nostalgia kejayaan RMS.
“Pertanyaannya kini bukan lagi apakah Syaharuddin Alrif bisa menggantikan Rusdi Masse. Ia tidak bisa, dan memang tidak seharusnya. Pertanyaan yang lebih relevan adalah: apakah ia cukup berani mengakhiri era politik personalistik NasDem Sulsel?,”katanya.
“Jika iya, NasDem mungkin akan kalah satu-dua kali pemilu—tetapi selamat sebagai institusi. Jika tidak, kemenangan apa pun ke depan hanya akan bersifat semu: angka tanpa fondasi, kursi tanpa loyalitas, dan partai tanpa jiwa. Dan dalam politik, itu adalah bentuk kekalahan paling sunyi dan paling mematikan,”sambungnya.