PSI, Muammar Ferira Gandi Rusdi, dan Taruhan Politik di Sulawesi Selatan

Masuknya Muammar Gandi Rusdi, putra Rusdi Masse, sebagai nakhoda Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Sulawesi Selatan bukan sekadar pergantian kepemimpinan struktural. Ia adalah pernyataan politik bahwa PSI tidak lagi ingin menjadi partai pinggiran di Sulsel, melainkan kekuatan baru yang siap merebut ruang yang ditinggalkan atau diguncang oleh partai-partai mapan.

Sulawesi Selatan adalah wilayah yang keras secara politik. Tradisi patronase, kekuatan elite lokal, dan loyalitas elektoral berbasis figur masih menjadi penentu utama. Di medan seperti ini, PSI selama ini tampak asing; terlalu urban, terlalu nasional, dan minim jejaring lokal. Maka, penunjukan Gandi Masse adalah upaya PSI menjawab satu pertanyaan mendasar yakni bagaimana menaklukkan Sulsel tanpa menjadi orang luar?

Tak bisa dipungkiri, Gandi Masse membawa “politik darah” yang kuat. Nama Rusdi Masse (RMS) bukan sekadar brand, melainkan simbol jaringan, pengalaman, dan pengaruh elektoral yang nyata, terutama di wilayah Ajatappareng dan sebagian besar Sulsel. Dalam politik lokal, nama keluarga masih jauh lebih efektif dibanding jargon perubahan.

Baca Juga:  Dari Munafri–Aliyah, untuk Warga Makassar di HUT ke-418

Namun, di titik inilah PSI berada dalam dilema strategis. Jika terlalu bertumpu pada efek RMS, PSI berisiko kehilangan identitasnya sebagai partai anak muda dan reformis. Sebaliknya, jika mengabaikan modal politik keluarga Masse, PSI akan mengulang kesalahan lama: idealisme tanpa mesin.

Gandhi Masse berdiri di tengah dua arus itu. Ia bukan RMS, tapi juga bukan kader PSI “murni” yang tumbuh dari bawah. Posisi ini justru bisa menjadi keunggulan jika mampu menjembatani politik jaringan lama dengan narasi politik baru.

Realitas lain yang menguntungkan PSI adalah retaknya konsolidasi elite pasca-RMS di NasDem Sulsel. Perpindahan RMS ke PSI, baik secara formal maupun melalui pengaruh tidak langsung, menciptakan efek domino yaitu kebingungan loyalitas, migrasi jaringan, dan cairnya basis dukungan yang sebelumnya solid.

Baca Juga:  Plus Minus Dua Ketua Parpol Berusia Muda di Sulsel, PSI Dinilai Lebih Menjanjikan

PSI membaca celah ini dengan cukup cerdas. Sulsel tidak dibidik sebagai lumbung suara instan, tetapi sebagai laboratorium politik baru. Rakernas di Makassar, konsolidasi terbuka, dan narasi “kandang gajah” menunjukkan bahwa PSI ingin menanam akar, bukan sekadar memanen suara.

Namun, celah elite tidak otomatis menjadi suara rakyat. Banyak partai runtuh karena terlalu sibuk mengelola elite, lupa membangun struktur.

Masalah utama PSI di Sulsel bukan citra, melainkan ketiadaan struktur hingga ke desa dan lorong-lorong sosial. Politik Sulsel masih sangat ditentukan oleh relasi langsung: tokoh adat, pemuka agama, jaringan keluarga, dan komunitas ekonomi lokal.

Di sinilah ujian Gandi Masse sebenarnya. Apakah ia hanya menjadi simbol transisi elite, atau benar-benar membangun mesin partai yang bekerja? Tanpa kaderisasi serius dan kerja lapangan jangka panjang, PSI hanya akan menjadi “partai event”, ramai di panggung, senyap di bilik suara.

Baca Juga:  Semakin Menguat, RMS Tinggalkan NasDem Jelang Rakernas PSI

Peluang PSI di Sulsel di bawah Gandi Masse nyata, tetapi belum aman. Nama besar memberi pintu masuk, tapi bukan jaminan kemenangan. PSI punya momentum, tetapi momentum adalah komoditas paling cepat basi dalam politik.

Jika PSI mampu mengonsolidasikan jaringan RMS tanpa kehilangan identitas, membangun struktur riil hingga tingkat bawah, dan menerjemahkan politik anak muda ke dalam bahasa lokal Sulsel, maka PSI berpotensi menjadi kekuatan disruptif baru dalam peta politik Sulawesi Selatan.

Namun jika gagal, PSI hanya akan dikenang sebagai partai yang sempat “berkilau” karena nama besar lalu padam sebelum sempat menyala penuh.

Di tangan Gandi Masse, PSI Sulsel sedang memainkan taruhan politik besar antara menjadi pemain utama baru, atau sekadar catatan kaki dalam sejarah pergeseran elite.

Saiful Bahri

Direktur CRC

Komentar Anda
Berita Lainnya