JELAJAH.CO.ID,Makassar – Direktur Nurani Starategic Nurmal Idrus menilai, Partai Perindo tidak lagi sebagai partai pelengkap di pemilu mendatang. Usai dilantik sebagai ketua partai di daerah ini.
“Peluang Perindo Sulsel cukup menjanjikan untuk naik kelas dari sekadar partai pelengkap menjadi partai yang diperhitungkan dalam perebutan kursi legislatif,”ujar Nurmal saat dikonfirmasi melalui pesan WhatsApp, Kamis 5 Februari 2026.
Menurutnya,,keberhasilan Perindo Sulsel dibawah AHG bergantung pada seberapa cepat ia beradaptasi dengan gaya politik lapangan yang dinamis.Jika AHG mampu mengonversi jaringan birokrasinya menjadi mesin pemenangan dan tetap sinkron dengan arahan Ketum Angela Tanoesoedibjo.
“Perindo berpotensi mengamankan lebih banyak kursi di DPRD Provinsi maupun Kabupaten/Kota pada Pemilu mendatang,”katanya.
Nurmal mengatakan, Sulsel adalah medan tempur yang sangat kompetitif dengan dominasi partai besar seperti Golkar, NasDem, dan Gerindra. AHG harus mampu memposisikan Perindo sebagai alternatif yang relevan di tengah kepungan partai raksasa.
“Sebagai seorang mantan pamong dan birokrat AHG perlu mengubah gaya pendekatannya. Politik praktis membutuhkan kelincahan dan gaya komunikasi yang berbeda dengan birokrasi yang kaku,”katanya.
Diketahui, Ketua Umum DPP Partai Perindo Angela Tanoesoedibjo melantik mantan Sekda Sulawesi Selatan, AHG sebagai Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai Perindo Sulawesi Selatan di Hotel Claro.
Angela mengungkapkan kegembiraannya bisa kembali hadir di Kota Makassar yang dinilainya sebagai kota yang dinamis dan penuh energi. Ia menyinggung fenomena banyaknya partai politik yang berlomba-lomba merekrut kader terbaik dari Makassar.
“Senang sekali saya bisa mampir di Makassar, kota yang akhir-akhir ini ramai sekali. Banyak partai yang rebutan kader terbaik dari Makassar. Tapi kalau Perindo, kita tidak rebutan, kita lahirkan kader-kader terbaik di sini. Setuju?” ujar Angela disambut antusias kader.
Angela menegaskan bahwa pelantikan ini bukan sekadar pergantian struktur organisasi, melainkan peneguhan arah perjuangan Partai Perindo di Sulawesi Selatan sebagai wilayah strategis nasional. Angela menyatakan tidak salah pilih Ketua DPW Sulawesi Selatan.
“Pak Hayat ini bukan hanya birokrat ulung, tapi beliau juga seorang petarung. Gimana gak bertarung, sampai ke Mahkamah Agung saja beliau bisa menangkan,” Angela mengaitkan kasus gugatan mantan Sekda Sulawesi Selatan yang berhasil menang di Mahkamah Agung atas tuntutan gaji yang tidak dibayarkan yang adalah beliau sendiri, Abdul Hayat Gani.
Angela mengarahkan agar semangat petarung ini disebarkan sampai ke akar rumput, “Semangat petarung Pak Hayat ini harus turun sampai ke DPC-DPC, karena bagaimanapun lawan kita ini gajah-gajah (metafora saja). Tapi jelas tidak ada yang mustahil, setuju!” serunya disambut teriakan kader Perindo.
Itulah mengapa logo Partai Perindo sebagai burung Rajawali punya makna yang tegas dan kuat melihat badai sebagai tantangan.
Bagi Partai Perindo, Sulawesi Selatan memiliki posisi yang sangat penting karena menjadi gerbang Timur Indonesia, sekaligus simpul ekonomi, politik, dan budaya kawasan timur Indonesia.
“Sulawesi Selatan adalah gerbang Indonesia Timur. Ini wilayah strategis dan harus menjadi pusat perjuangan Partai Perindo. Bukan karena sumber daya alam saja tapi karena sumber daya manusianya. Tanpa kapasitas yang mumpuni, pengelolaan sumber daya alam justru bisa jadi petaka,” ujarnya.
Bagi Angela politik harus dimaknai sebagai sarana memperjuangkan kesejahteraan rakyat, bukan sekadar perebutan kekuasaan. Oleh karena itu, Partai Perindo terus memperkuat struktur organisasi hingga ke tingkat kecamatan dan tidak meninggalkan rasa empati terhadap masalah rakyat.
Dengan mengusung semangat Energi Baru Indonesia, Angela menegaskan bahwa Partai Perindo hadir sebagai partai petarung yang mengandalkan kerja nyata dan konsistensi, bukan sekadar janji.
Dalam konteks Sulawesi Selatan, Angela menyoroti nilai lokal Siri’ na Pacce sebagai ruh gerakan partai. “Bagi Perindo, Siri’ dimaknai sebagai komitmen menjaga kehormatan partai melalui kerja nyata, sementara Pacce menjadi dasar empati untuk hadir dan peduli terhadap kesulitan rakyat, khususnya petani, nelayan, dan pedagang kecil.”
Ia menegaskan bahwa bagi Partai Perindo, Sulawesi Selatan bukanlah “kandang” siapa pun.
“Politik bukan hanya soal kekuasaan, tetapi alat untuk memperjuangkan kesejahteraan rakyat. Maka dari itu menurut saya Sulawesi Selatan ini bukan kandang tapi cakrawala. Tidak perlu ada yang disekati, semua kader harus bekerja dengan empati untuk masyarakat” ujarnya.
Menutup sambutannya, Angela mengajak seluruh kader menjadikan pelantikan ini sebagai titik awal penguatan perjuangan Partai Perindo dari Gerbang Timur Indonesia.