Serap Aspirasi di Maccini Gusung, Cicu Soroti Sedimentasi Drainase, Krisis Air PDAM, hingga Kenakalan Remaja

JELAJAH.CO.ID,Makassara – Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Makassar, Andi Rachmatika Dewi, melaksanakan kegiatan Pengawasan Pelaksanaan APBD 2016 di Kelurahan Maccini Gusung, Kecamatan Makassar. Dalam kunjungan kerja tersebut, legislator dari Fraksi Partai NasDem yang akrab disapa Cicu ini menerima gelombang aspirasi dan keluhan krusial yang mendesak dari warga setempat.

​Berbagai persoalan riil di tengah masyarakat mencuat dalam dialog interaktif tersebut. Mulai dari penanganan infrastruktur drainase yang mengalami pendangkalan parah, krisis distribusi air bersih, hingga persoalan sosial kemasyarakatan terkait maraknya aktivitas anak di bawah umur yang mengonsumsi lem (isap lem).

Respons Cepat Pengerukan Sedimen Drainase Poros Maccini Sawah – Kerung-Kerung

​Menanggapi keluhan dari perwakilan warga bernama Aril terkait kondisi drainase yang mengalami sedimentasi tinggi, Cicu menegaskan komitmennya untuk segera mengawal dan meneruskan usulan tersebut ke dinas terkait agar segera dilakukan tindakan teknis.

​”Sepanjang jembatan Maccini Sawah sampai Kerung-kerung, ya? Insyaallah, ini nanti akan kami usulkan untuk segera dikeruk. Walaupun sekarang ini kita sudah tidak berada di puncak musim penghujan, namun langkah mitigasi dan antisipasi harus tetap kita lakukan sejak dini,” ujar Cicu di hadapan para konstituen Ahad 31 Mei 2026.

​Kendati demikian, Cicu juga memberikan catatan serta edukasi tegas kepada warga. Ia mengingatkan bahwa keberhasilan penanganan banjir dan genangan harus berjalan dua arah melalui kolaborasi aktif masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan.

Baca Juga:  Ketua DPRD Sulsel Apresiasi Langkah Kemendagri Menunda Pelantikan Kepala Daerah Terpilih

​”Tapi kita harus berkomitmen dan berjanji bersama dulu. Kalau nanti gotnya sudah dikeruk oleh pemerintah, Bapak Ibu tidak boleh lagi membuang sampah di tempat yang sama. Kerja keras pengerukan lumpur akan sia-sia jika perilaku membuang sampah sembarangan tetap berlanjut. Begitu musim hujan tiba, wilayah ini pasti akan kembali banjir,” imbaunya.

Krisis Air Bersih PDAM Merembet ke Jantung Kota

​Selain persoalan infrastruktur fisik drainase, masalah kelangkaan pasokan air bersih yang dikelola oleh Perumda Air Minum (PDAM) Kota Makassar menjadi sorotan tajam dalam pertemuan tersebut. Cicu memaparkan fakta mengejutkan bahwa krisis air kini telah meluas hingga ke wilayah tengah kota.

​”Jangankan masyarakat sekalian, rumah pribadi saya sendiri di Kelurahan Maricaya, Kecamatan Makassar, saat ini aliran air PDAM-nya juga tidak jalan. Kebetulan kita semua mengalami nasib dan keluhan yang sama,” ungkap Cicu.

​Lebih lanjut, ia menekankan bahwa fenomena ini menjadi alarm keras bagi jajaran manajemen kedireksian BUMD tersebut. Menurutnya, peta zonasi krisis air bersih di Kota Makassar kini telah mengalami pergeseran yang cukup mengkhawatirkan.

​”Jika pada tahun-tahun sebelumnya masalah kemarau dan krisis air bersih hanya identik dengan wilayah utara kota seperti Tamalanrea dan Biringkanaya, saat ini Kecamatan Makassar yang lokasinya sangat dekat dengan kantor pusat PDAM pun sudah kesulitan air. Ini menjadi rapor merah dan bahan evaluasi total bagi direksi beserta seluruh jajaran PDAM atas kinerja pelayanan publik mereka,” tegasnya secara lugas.

Baca Juga:  DPRD Sulsel Belum Tentukan Lokasi Kantor Usai Gedung Terbakar

​Pihaknya memastikan bahwa seluruh keluhan dan keresahan warga Kelurahan Maccini Gusung terkait pasokan air bersih ini akan diformulasikan menjadi rekomendasi resmi DPRD untuk segera diintervensi oleh pihak direksi PDAM.

Darurat Sosial: Kolaborasi Cegah Kenakalan Remaja dan Isap Lem

​Menutup jalannya dialog, Wakil Ketua DPRD Kota Makassar ini memberikan perhatian super serius terhadap aduan warga mengenai maraknya anak di bawah umur yang berkumpul untuk mengonsumsi lem (isap lem) di sudut-sudut lorong, yang kerap menjadi pemicu aksi kriminalitas jalanan seperti geng motor dan aksi pembusuran.

​Merespons situasi darurat sosial tersebut, Cicu mengaku telah bergerak cepat melakukan koordinasi langsung dengan jajaran aparat penegak hukum tingkat tinggi di tingkat kota.

​”Waktu ada salah satu anak SD yang menjadi korban di wilayah Ablam, saya langsung menghubungi Kapolrestabes Makassar untuk mempertanyakan tindakan nyata kepolisian dalam meredam keresahan masyarakat terkait geng motor. Polanya jelas, mereka tidak akan berani melakukan tindakan kriminal luar biasa atau melakukan aksi busur jika tidak terpengaruh lingkungan gengnya dan jika mereka dalam keadaan sadar. Biasanya mereka mengonsumsi lem terlebih dahulu hingga mabuk (fly), baru melakukan aksi nekat,” urainya panjang lebar.

Baca Juga:  Warga Lembo Minta Tambahan CCTV dan Pemerataan Bansos, Cicu Tegaskan Pentingnya Jam Malam Anak

​Namun, Cicu mengingatkan bahwa penyelesaian masalah anak di bawah umur yang berhadapan dengan hukum memiliki kompleksitas regulasi tersendiri. Kepolisian maupun TNI memiliki keterbatasan dalam menahan pelaku anak karena dilindungi oleh undang-undang sistem peradilan pidana anak.

​”Oleh karena itu, benteng utamanya ada pada fungsi pengawasan orang tua di rumah. Tolong anak-anak kita dijaga ketat. Jika waktu sudah menunjukkan di atas pukul 22.00 WITA, anak di bawah umur tidak boleh lagi dibiarkan keluyuran atau beraktivitas di luar rumah. Sangat miris jika aktivitas tengah malam tersebut luput dari perhatian orang tua,” tambahnya.

​Ia pun menyerukan gerakan kolaboratif yang melibatkan seluruh struktur sosial terkecil, mulai dari orang tua, Ketua RT, hingga Ketua RW setempat di Kecamatan Makassar untuk aktif melakukan ronda dan pengawasan wilayah.

​”Masalah ini tidak akan bisa tuntas jika hanya dibebankan pada satu atau dua pihak saja. Ini adalah keresahan kolektif karena korbannya sudah banyak. Mari kita bersama-sama mengambil peran, berkolaborasi, dan memperkuat kepedulian demi menjaga keselamatan masa depan anak-anak kita serta ketenteraman wilayah Kecamatan Makassar,” pungkas Cicu.

Komentar Anda
Berita Lainnya