Target Tiga Kursi Provinsi dan Rampungkan Struktur, Hanura Sulsel Andalkan Figur ‘Jenderal’ di Pilgub

JELAJAH.CO.ID,Makassar – Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) Sulawesi Selatan (Sulsel) tengah bergerak cepat memanaskan mesin partai jelang kontestasi politik mendatang. Tidak tanggung-tanggung, Hanura Sulsel membidik target realistis namun optimis untuk mengamankan minimal tiga kursi di Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Sulsel.

​Plt Sekretaris DPD Hanura Sulsel, Dedi Jusman, mengungkapkan bahwa wilayah Makassar akan menjadi salah satu lumbung suara utama untuk mendongkrak perolehan kursi tersebut.

​”Target hari ini kita minimal tiga kursi untuk provinsi. Paling potensial itu minimal Makassar dua kursi, yaitu dari Dapil Makassar A satu kursi dan Dapil Makassar B satu kursi,” ujar Dedi saat diwawancarai, Sabtu 13 Juni 2026.

Target Rampungkan Struktur DPC Bulan Ini

​Sebagai partai non-parlemen (non-parliamentary party) saat ini, Hanura Sulsel menyadari pentingnya penguatan fondasi internal. Dedi menjelaskan bahwa fokus utama partai pada bulan Juni 2026 ini adalah menuntaskan reposisi dan pembenahan struktur di tingkat Dewan Pimpinan Cabang (DPC) kabupaten/kota.

​Saat ini, tersisa empat DPC yang sedang dalam proses perombakan dan penyelesaian, di antaranya adalah DPC Soppeng, Bantaeng, dan Sinjai.

Baca Juga:  Benny Rhamdani: Partai Hanura Memiliki Komitmen Kuat Terhadap Pembangunan Daerah

​”Bulan ini kami targetkan rampung semua untuk posisi ketua-ketua DPC yang diganti. Sudah ada keputusan dan semuanya sudah ‘rambut’ (clear). Targetnya, bulan Juli seluruh struktur sudah rampung total untuk menghadapi verifikasi,” jelasnya.

​Dengan rampungnya struktur di tingkat hilir pada tahun ini, Hanura Sulsel bersiap melakukan pergerakan penuh (start kerja full) pada tahun 2027 sebagai bagian dari persiapan jangka panjang menuju Pemilu 2029 dan 2030. Saat ini, Badan Pemenangan Pemilu (Bapil) yang dikomandani oleh Adi Buwan juga tengah gencar menyusun struktur pembentukan ranting di tingkat bawah.

Dorong Ketua DPD Hanura Sulsel Maju Pilgub atau Menteri

​Meskipun fokus utama saat ini adalah penataan organisasi internal dan pemenangan legislatif, Hanura Sulsel sudah memiliki pandangan strategis terkait kontestasi kepala daerah (Pilkada).

​Dedi menegaskan, Hanura Sulsel akan berupaya keras mendorong Ketua DPD Hanura Sulsel saat ini—yang merupakan seorang purnawirawan Jenderal—untuk maju bertarung di level eksekutif, baik sebagai calon gubernur maupun menatap posisi di tingkat nasional.

Baca Juga:  Golkar Sulsel Akan Gelar Silaturahmi dengan Pemilik Suara Jelang Musda

​”Untuk kepala daerah (secara umum) belum ada ancang-ancang detail, kita selesaikan dulu Pemilu 2029. Tapi kami berusaha bagaimana Ketua DPD kami, yang merupakan seorang Jenderal ini, bisa maju jadi gubernur. Kalau perlu jadi menteri,” tegas Dedi.

Strategi Verifikasi Faktual dan Menepis Tantangan “Non-Parlemen”

​Menghadapi verifikasi faktual yang menjadi syarat wajib bagi partai non-parlemen untuk bertarung kembali di Pemilu, Hanura Sulsel mengaku sangat siap. Dedi merinci bahwa syarat-syarat administratif seperti keterwakilan pengurus perempuan minimal 30 persen dan keberadaan sekretariat fisik di tingkat DPD dan DPC wajib dipenuhi dan saat ini berjalan aman.

​Ia tidak menampik bahwa status Hanura sebagai partai non-parlemen memberikan tantangan tersendiri dalam hal “harga jual” partai di masyarakat. Namun, kehadiran figur ketua DPD yang berlatar belakang militer menjadi daya tarik kuat yang mampu menarik minat para figur potensial daerah.

​”Hanura ini non-parliament, struggling untuk menjualnya memang ada. Cuma dengan nama beliau (Ketua DPD) yang seorang jenderal, peminat tetap banyak, walaupun kami tetap harus seleksi ketat,” tambahnya.

Baca Juga:  Rakerda Demokrat Sulsel, Herman Khaeron : Target Menangkan Pemilu 2029

Partai Terbuka yang Mengusung Konsep “Tumbuh dari Bawah”

​Mengingat sejarahnya, Hanura pernah berjaya selama dua periode awal pemilu di Sulsel, bahkan performanya sempat melampaui partai-partai besar lain sebelum akhirnya mengalami penurunan akibat dinamika internal. Untuk mengembalikan kejayaan tersebut, Hanura Sulsel menegaskan posisinya sebagai partai inklusif dan terbuka.

​Berbeda dengan partai yang berbasis massa agama atau kelompok tertentu, Hanura membuka pintu bagi siapa saja—mulai dari kalangan profesional, politisi senior, hingga aktivis—selama memiliki komitmen moral yang kuat.

​”Kami adalah partai terbuka. Siapapun yang mau bergabung akan kami rekrut, selama mereka jujur dan mau bekerja demi rakyat. Garis besar perjuangan kami adalah memberdayakan daerah terlebih dahulu. Sesuai jargon kami, daerah harus dikembangkan sebelum ke nasional. Tumbuh dari bawah. Kalau daerah sudah bagus, pasti ke atasnya akan bagus semua,” pungkas Dedi.

Komentar Anda
Berita Lainnya