JELAJAH.CO.ID,Makassar – Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Sulawesi Selatan, M. Ilyas, menegaskan bahwa ketersediaan pangan di Sulawesi Selatan (Sulsel) pada dasarnya sangat kuat dan melimpah. Mulai dari komoditas hasil laut hingga pegunungan seperti beras, jagung, ikan, telur, bawang, hingga cabai, seluruhnya tersedia di daerah ini.
Bahkan, untuk komoditas beras, Ilyas menyebutkan bahwa stok yang tersimpan di gudang Bulog dan para pengusaha per Agustus 2026 diperkirakan cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat hingga dua tahun ke depan.
Meski demikian, ia menggarisbawahi bahwa persoalan utama yang dihadapi Sulsel saat ini terletak pada tata kelola distribusi pangan. Pasokan komoditas lokal yang melimpah sering kali melayang keluar daerah tanpa kontrol yang ketat, sehingga memicu lonjakan harga di pasar lokal.
”Sebetulnya ketahanan pangan kita kuat dari gunung sampai laut. Namun yang harus diperbaiki ke depan adalah tata kelolanya. Jangan sampai produk pangan kita terlalu banyak keluar, sementara yang tertinggal di daerah justru sedikit. Contohnya cabai, produksinya ada di mana-mana di kabupaten, tetapi harganya di sini tetap tinggi karena banyak yang dikirim ke luar,” ujar M. Ilyas saat ditemui di Komisi B DPRD Sulsel, Rabu 23 September 2026.
Ilyas mencontohkan pengiriman hasil laut, beras, hingga bawang merah dari Sulsel ke berbagai daerah tetangga seperti Jawa, Kalimantan, hingga Maluku. Untuk mengatasi masalah rantai pasok dan stabilitas harga ini, ia mendorong pembentukan pusat distribusi terpadu di Sulsel.
”Saya berharap ke depannya kita punya pasar induk di Sulawesi Selatan, seperti yang ada di Jakarta. Ini penting agar kita bisa betul-betul memantau dan mengontrol pergerakan 12 bahan pangan utama dan strategis,” jelasnya.
Di sisi lain, Pemprov Sulsel juga mencatat masih ada sejumlah wilayah yang tergolong rawan pangan. Daerah-daerah tersebut didominasi oleh wilayah kepulauan, seperti di Kabupaten Kepulauan Selayar dan Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep). Untuk wilayah rawan ini, Dinas Ketahanan Pangan menyiapkan langkah intervensi dan strategi khusus guna memastikan keterjangkauan pasokan pangan masyarakat.