JELAJAH.CO.ID,Makassar – Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) terjun langsung ke Makassar untuk mengecek kasus dugaan penembakan remaja oleh oknum perwira polisi.
Ada dua orang komisioner Kompolnas yang datang langsung ke Makassar, yakni Gufron Mabruri dan Mohammad Choirul Anam.
“Kami berdua datang untuk mengecek langsung apa yang terjadi dalam peristiwa di wilayah Panakukkang,” ujar Choirul Anam di Mapolda Sulsel, Kamis 5 Maret 2026.
Choirul Anam mengaku sudah ketemu dengan keluarga korban, kemudian mengecek langsung TKP dan CCTV di lokasi dugaan penembakan itu.
“Kami cocokkan dengan hasil gambar CCTV yang ada dan informasi di masyarakat apa yang terjadi sebenarnya. Dan kami juga sudah ketemu dengan terduga pelaku penembakkan,”ujar Choirul.
Kemudian, Choirul juga menambahkan, bahwa terduga pelaku penembakan juga sudah ditetapkan tersangka. Dia mengapresiasi langkah cepat yang dilakukan Polda Sulsel dalam melakukan penindakan terhadap oknum perwira tersebut.
“Kemarin terduga pelaku penembakkan sudah dinaikkan statusnya sebagai tersangka,” tegasnya.
Choirul mengurai kejadian berdasarkan CCTV saat kejadian ada kegiatan anak-anak remaja terekam di kamera CCTV dengan sangat jelas melakukan kegiatan tembak menembak menggunakan senjata mainan.
Bukan hanya itu kata dia, ada juga kegiatan lain di tempat tersebut, namun ia mempersilakan agar pihak kepolisian yang akan menjelaskan itu secara rinci kepada publik.
Dalam kejadian tersebut sebelumnya kata Choirul, memang ada tembakan peringatan. Namun dalam CCTV terekam jelas posisi oknum polisi yang diduga melakukan penembakan apakah sengaja atau tidak sengaja.
“Dengan video CCTV tersebut gampang untuk mengetahui kejadian sebenarnya, karena semua kejadian terekam dengan sangat jelas,” ucapnya. “Jenazah korban ada luka peluru keluar dan peluru masuk. Tapi di wajahnya tidak ada luka lebam ataupun memar,” tambahnya.
Choirul Anam menyebut berdasarkan keterangan dokter yang memeriksa jenazah korban, di tubuh ataupun wajahnya tidak ditemukan luka selain luka tembak. Namun Choirul menjelaskan dilihat dari CCTV yang mereka periksa, oknum perwira tersebut tidak dalam posisi membidik korban.
“Kalau membidik itu memang menyasar objek dan subjek tertentu. Namun itu tidak kelihatan, sehingga apakah ini sengaja atau tidak sengaja. Video tersebut menjadi fakta utama untuk menunjukkan bagaimana posisi tangan dan senjata. Kalau dilihat memang tidak ada posisi membidik sasaran secara langsung ke korban,”jelasnya.