​Polemik Film “Pesta Babi” Memanas, Prof. Zainal Arifin Mochtar Kritik Penolakan Dandhy Laksono di Makassar

JELAJAH.CO.ID,Makassar – Gelombang penolakan terhadap film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita kini mencapai Kota Makassar. Setelah sebelumnya diwarnai pembubaran agenda nonton bareng (nobar) di Ternate dan Mataram, kini giliran sang sutradara, Dandhy Dwi Laksono, yang menjadi sasaran penolakan lewat poster digital yang viral di media sosial.

​Poster yang beredar luas di grup WhatsApp dan Instagram tersebut memuat narasi tegas: “Masyarakat Makassar Menolak Kedatangan Dandhy Dwi Laksono.” Alasan penolakan disebut-sebut karena muatan film tersebut dianggap provokatif dan berpotensi memecah belah persatuan bangsa.

Kegelisahan Akademisi: “Makassar Tak Sejumud Itu”

​Merespons fenomena ini, Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Zainal Arifin Mochtar, angkat bicara. Akademisi yang akrab disapa Uceng ini mengaku terkejut dan hampir tidak percaya bahwa kota kelahirannya menunjukkan sikap anti-intelektual terhadap sebuah karya dokumenter.

Baca Juga:  Deretan Pasangan Selebriti Tanah Air yang Bercerai Sepanjang Tahun 2025

​”Melihat ini dikirimkan oleh seorang teman, saya nyaris tidak percaya. Kok bisa? Anak-anak di Kota Makassar, dari suku Bugis maupun Makassar, takut dengan film?” ujar Uceng dengan nada heran, Jumat 15 Mei 2026.

​Alumni SMA Negeri 1 Makassar ini kemudian membedah karakter masyarakat Sulawesi Selatan melalui kacamata antropologi dan sejarah. Mengutip pakar seperti Christian Pelras dan Leonard Andaya, Uceng mengingatkan bahwa identitas Bugis-Makassar dibangun di atas tradisi intelektual yang kuat, budaya kehormatan, dan militansi politik yang tinggi.

​”Takut dengan film kayaknya bukan mereka,” tegasnya. Ia menekankan bahwa Makassar seharusnya tetap menjadi ruang terbuka bagi diskusi dan kritik, bukan justru menutup diri atau menjadi kota yang jumud (statis).

Baca Juga:  LMKN Jelaskan Polemik Royalti Dangdut, ARDI Sempat Tolak Distribusi

​Uceng menutup pernyataannya dengan filosofi mendalam: “Kupare’ngkeng ri boko, kupada’ngkeng ri munri”, yang bermakna keberanian untuk teguh berdiri di atas kebenaran. “Tentu, tak ada alasan takut pada film,” pungkasnya.

Soroti Isu Papua, Dandhy Tetap Akan Hadir

​Film Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita sendiri merupakan potret kritis karya Dandhy Dwi Laksono bersama Cypri Jehan Paju Dale. Dokumenter ini memotret perjuangan masyarakat adat di Papua Selatan yang terhimpit oleh ekspansi Proyek Strategis Nasional (PSN).

​Dalam sinopsisnya, film ini mengungkap ancaman hilangnya 2,5 juta hektar hutan Papua yang beralih fungsi menjadi perkebunan industri demi ketahanan pangan dan transisi energi. Isu sensitif inilah yang diduga menjadi pemicu penolakan di berbagai daerah.

Baca Juga:  Lima Artis Indonesia dengan Bayaran Termahal di 2025

​Meski diterjang gelombang penolakan dan poster boikot, Dandhy Dwi Laksono menyatakan tidak akan mundur. Saat dikonfirmasi, sang sutradara memastikan bahwa agenda kunjungannya ke Makassar akan tetap berjalan sesuai rencana.

​”Saya tetap akan datang ke Makassar,” jawab Dandhy singkat dan mantap.

​Kehadiran Dandhy di Makassar dalam waktu dekat diprediksi akan menjadi ujian bagi ruang demokrasi dan kebebasan berekspresi di kota tersebut, sekaligus membuktikan apakah Makassar tetap konsisten sebagai kota yang menghargai dialog intelektual atau justru terkooptasi oleh sikap represif.

Komentar Anda
Berita Lainnya