Isu Reshuffle Kabinet Merah Putih Menguat, Idrus Marham: Fokus pada Revitalisasi Kinerja

JELAJAH.CO.ID,Jakarta – Aroma perombakan atau reshuffle Kabinet Merah Putih semakin kencang berembus di lingkungan Istana Kepresidenan. Sinyal ini diperkuat oleh pernyataan singkat Sekretaris Kabinet, Teddy Indra Wijaya, yang meminta publik untuk bersabar menunggu keputusan final dari Presiden Prabowo Subianto.

​”Tunggu saja,” ujar Teddy singkat saat ditemui di Kompleks Istana Kepresidenan, tanpa merinci jadwal pasti evaluasi besar-besaran tersebut.

Bukan Sekadar Ganti Figur

​Menanggapi dinamika ini, Wakil Ketua Umum Partai Golkar Bidang Kebijakan Publik, Idrus Marham, menilai bahwa wacana reshuffle tidak boleh dilihat hanya sebagai rotasi posisi politik. Menurutnya, langkah ini merupakan bagian dari strategi penguatan kapasitas kelembagaan agar sesuai dengan visi besar presiden.

Baca Juga:  Munafri Arifuddin Perkuat Kolaborasi di Forum Wali Kota Dunia di Vienna

​Idrus menegaskan bahwa Presiden Prabowo telah meletakkan lima fondasi pemikiran sebagai arah kebijakan nasional:

​Prinsip Pancasila: Sebagai ideologi dan panduan dasar pembangunan.

​Inklusivitas: Menjadikan Indonesia sebagai “rumah besar bersama”.

​Persatuan Nasional: Menjaga stabilitas di tengah kemajemukan bangsa.

​Kemandirian Strategis: Fokus pada ketahanan pangan, energi, dan hilirisasi SDA.

​Soliditas Tim: Penekanan pada kerja sama kabinet yang padu melalui konsolidasi internal.

Menteri Tak Produktif Layak Diganti

​Idrus secara terbuka menyampaikan bahwa jika terdapat ketidakefektifan dalam pemerintahan, hal tersebut merupakan tanggung jawab jajaran kementerian, bukan presiden. Ia mengkritik keras pihak-pihak yang meminta presiden mundur, karena menurutnya hambatan utama ada pada level implementasi.

Baca Juga:  Kabupaten Sidrap Raih Penghargaan Dari KPK

​”Tidaklah bijaksana apabila muncul suara-suara yang meminta presiden turun. Masalahnya bukan pada presiden, tetapi pada pembantu-pembantunya,” tegas Idrus dalam keterangan tertulisnya, Senin 27 April 2026.

​Ia pun mendukung penuh langkah presiden jika ingin melakukan “pembersihan” di kabinet. “Menteri-menteri yang tidak produktif harus diganti, siapapun dia,” tambahnya.

Menanti Akselerasi Asta Cita

​Bagi Partai Golkar, momentum reshuffle harus menjadi energi baru untuk mengakselerasi program prioritas yang tertuang dalam Asta Cita. Evaluasi berbasis data lapangan dianggap sebagai keniscayaan dalam sistem pemerintahan presidensial.

​Kini, keputusan sepenuhnya berada di tangan Presiden Prabowo Subianto. Publik menanti apakah langkah yang diambil berupa perombakan besar-besaran atau sekadar teguran keras untuk memacu kinerja kabinet agar lebih responsif terhadap tantangan global dan domestik.

Komentar Anda
Berita Lainnya