Dihadapan Cicu, Pensiunan Guru Gagas Pembuatan Mural untuk Hidupkan Sejarah Kerajaan Gowa-Tallo

JELAJAH.CO.ID,Makassar –  Kepedulian terhadap sejarah dan budaya maritim lokal memicu lahirnya sebuah gagasan kreatif di kawasan pendidikan pekan budaya. Terinspirasi dari aspirasi yang diserap melalui anggota dewan, seorang pensiunan guru bernama Natsir mengusulkan pembuatan mural sejarah berskala besar yang berfungsi sebagai ‘museum terbuka’ bagi generasi muda.

Gagasan ini muncul karena keprihatinan dia terhadap minimnya literasi sejarah bahari di kalangan anak-anak, meskipun mereka tinggal dan belajar di wilayah yang sarat akan nilai sejarah kelautan.

Menghidupkan Sejarah Melalui Seni Visual

Menurut Natsir, wilayah Kerajaan Gowa-Tallo memiliki rekam jejak kejayaan bahari yang sangat kuat, namun sayangnya kepedulian masyarakat umum terhadap sejarah tersebut masih tergolong minim. Selama ini, narasi sejarah lokal dirasa belum banyak menyentuh atau dijangkau secara luas oleh publik.

Baca Juga:  Wali Kota Makassar Resmikan Sekolah Islam Terpadu Raffasya

“Hal-hal seperti ini kan belum pernah dijamah masyarakat umum. Dalam artian, kepedulian terhadap kesejarahan itu susah dan sangat jarang (ditemukan). Itu barangkali yang mendorong saya supaya kita nanti bagaimana ke depannya tetap mengabadikan kesejarahan, seni, dan budaya di sini,” ungkap Natsir, Ahad malam 24 Mei 2026.

Melalui media mural, ia berharap pesan-pesan sejarah dapat disampaikan dengan cara yang lebih segar, interaktif, dan mudah dicerna. Anak-anak yang menempuh pendidikan di wilayah tersebut diharapkan bisa menumbuhkan kembali rasa cinta mereka terhadap warisan bahari Indonesia sejak dini.

Dukungan untuk “Museum Terbuka”

Hingga saat ini, konsep edukasi sejarah berbasis mural dan museum interaktif seperti yang direncanakan memang belum tersedia di kawasan tersebut. Oleh karena itu, ide ini diharapkan mampu menjadi pemantik bagi pihak-pihak terkait—termasuk pemerintah daerah dan perangkat dewan—untuk memberikan perhatian lebih pada pelestarian sejarah Kerjaan Tallo.

Baca Juga:  Pembangunan Gedung DPRD Sulsel Usai Terbakar Menggunakan APBN

Sebagai seorang mantan pendidik, Natsir menegaskan bahwa perannya saat ini murni sebagai warga masyarakat biasa yang ingin mendedikasikan waktu pensiunnya demi keberlanjutan edukasi budaya bagi anak cucu di masa depan.

Proyek mural sejarah ini diharapkan tidak hanya mempercantik lanskap wilayah pendidikan Tallo, tetapi juga sukses bertransformasi menjadi sarana belajar ruang terbuka yang edukatif dan inspiratif

Bak gayung bersambut, Ketua DPRD Sulawesi Selatan drg Andi Rachmatika Dewi komitmen mewujudkan harapan warga Kelurahan

Bongayya, Kecamatan Tamalate. Hal itu disampaikan seusai menghadiri kegiatan pengawasan APBD 2026 di Jalan Baji Iman.

“Ini sesuatu hal yang sangat bagus sekali dan perlu kita apresiasi. Ada masyarakat yang sadar wisata dan ingin membuat mural di salah satu aset pemerintah, khususnya di tembok SMA 8,” ujar Cicu-sapaan Andi Rachamtika.

Baca Juga:  Cicu Mengaku Sistem Zonasi Pendidikan Paling Banyak Dikeluhkan Masyarakat Saat Lakukan Pengawasan APBD

Nantinya, visualisasi alat transportasi laut zaman dulu serta rekam jejak pelayaran yang menjadi identitas asli masyarakat Sulsel.

Menariknya, proyek seni ini tidak hanya dikerjakan oleh para seniman lokal, melainkan juga melibatkan para siswa SMAN 8 secara langsung. Pola kolaborasi ini diharapkan mampu menumbuhkan rasa kepemilikan dan kebanggaan generasi muda terhadap sejarah daerahnya.

“Komunitas ini akan mengajak anak-anak SMA untuk ikut serta menggambar di situ. Jadi, komunitas yang membuat sketsanya, lalu anak-anak akan ikut berpartisipasi mewarnai dan menggambar. Ini kolaborasi yang sangat bagus,” tambahnya.

Komentar Anda
Berita Lainnya