JELAJAH.CO.ID,Makassar – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, memberikan klarifikasi terkait dua isu sektor energi yang tengah hangat, yakni kendala distribusi BBM di Sumatra Utara (Sumut) dan kelanjutan megaproyek Blok Masela.
Dalam keterangannya kepada awak media, Bahlil menegaskan pentingnya publik dan media untuk memahami batasan wewenang antara pemerintah sebagai regulator dan Pertamina sebagai operator di lapangan.
Duduk Perkara BBM Sumut: Stok Aman, Sopir Mogok
Terkait isu kelangkaan BBM yang sempat terjadi di Sumatra Utara, Bahlil menjelaskan bahwa masalah utama bukan terletak pada ketersediaan pasokan, melainkan pada proses distribusi akibat aksi mogok kerja para sopir tangki.
”Di Sumut itu BBM-nya ada, cuman penyalurannya—sopirnya yang mogok karena tidak tahu ada dinamika di bawah, lah, kira-kira begitu,” ujar Bahlil di Hotel Claro, Sabtu 18 Juli 2026.
Ia mengingatkan bahwa fungsi Kementerian ESDM adalah membuat kebijakan, sementara implementasi penyaluran sepenuhnya berada di tangan Pertamina. Bahlil bahkan sempat berseloroh meminta media agar tidak mengadukan seluruh persoalan teknis lapangan kepada dirinya.
”Masa kalau sopir mogok urusan Menteri ESDM? Ini lama-lama orang perut sakit pun Menteri ESDM kelihatannya. Teman-teman media tolong ya, jangan sampai besok, ‘Pak, kenapa minyaknya campur apa dikit, karburatornya rusak?’ tanya Menteri ESDM. Ini lama-lama Menteri ESDM jadi ahli montir juga,” kelakarnya.
Meski demikian, Bahlil memastikan telah memanggil pihak Pertamina untuk mengecek situasi tersebut. Saat ini, kendala tersebut telah diatasi dan pasokan BBM di Sumut dilaporkan mulai kembali normal.
Akhir Penantian 28 Tahun Blok Masela
Selain masalah BBM, Bahlil juga membawa kabar baik mengenai proyek gas abadi Blok Masela yang berlokasi di Kepulauan Tanimbar, Maluku. Proyek strategis nasional ini diketahui telah terkatung-katung selama 28 tahun sejak pertama kali ditemukan pada tahun 1998 akibat perdebatan konsep pembangunan.
”Dulunya sudah mau dieksekusi di masa pemerintahan Pak SBY maupun Pak Jokowi, tapi kan terjadi perdebatan antara offshore (lepas pantai) atau onshore (darat). Perdebatan itu tak kunjung selesai. Kalau ini terus menjadi perdebatan, kapan selesai? Dampaknya kita (pemerintah) tidak mendapatkan pendapatan negara,” jelas Bahlil.
Bahlil mengungkapkan, titik terang proyek ini terwujud setelah adanya arahan dan perintah langsung dari Presiden Prabowo Subianto untuk segera mengeksekusi proyek senilai 21 miliar dolar AS tersebut.
Setelah melalui proses clearance selama satu tahun di bawah kepemimpinannya, proyek Blok Masela akhirnya resmi memasuki tahapan groundbreaking (peletakan batu pertama). Pembangunan fisik kini mulai berjalan, dengan target produksi massal yang diproyeksikan terealisasi pada tahun 2029–2030.
Proyek raksasa ini digadang-gadang akan menghasilkan 1.200 MM gas serta 35.000 kondensat yang setara dengan 35.000 barel minyak per hari, yang diharapkan mampu mendongkrak pendapatan serta ketahanan energi nasional secara signifikan.