Pandu Negeri Public Lecture Hadirkan Hamid Awaluddin dan Rocky Gerung di UNM

JELAJAH.CO.ID,Makassar – Pandu Negeri Public Lecture Series#003 menghadirkan Rocky Gerung dan Hamid Awaluddin menjadi pembicara dalam diskusi bertajuk “Situasi Global dan Arah Politik Negeri Generasi Muda dalam Konsep To Build The World A New”. Kegiatan tersebut berlansung di Universitas Negeri Makassar pada, Sabtu 9 Mei 2026.

Turut pula dihadiri akademisi dari Unismuh Andi Luhur Priyanto dan dipandu Seno Baskoro. Selain itu hadir pula Ridwan Andi Witri, dr Fadli Ananda, Andi Suhada Sappaile, Mohammad Ramdhan Pomanto, dan Andi Putra Batara Lantara.

Dalam kesempatan itu, Hamid Awaluddin yang hadir melalui virtual soal “Memutus Rantai Energi: Strategi AS di Balik Tekanan Terhadap Venezuela dan Iran.

Mantan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia itu menyinggung ketegangan geopolitik yang melibatkan Amerika Serikat (AS), Venezuela, dan Iran dinilai bukan sekadar konflik regional biasa, melainkan bagian dari strategi besar untuk meruntuhkan dominasi ekonomi Cina di panggung global.

Baca Juga:  Presiden Berkurban di Makassar, Munafri-Aliyah Ucapkan Terima Kasih kepada Prabowo

Ia mengungkapkan bahwa langkah AS terhadap Venezuela sejak awal Januari lalu memiliki motif utama: melumpuhkan hegemoni industri Cina yang kini sulit disaingi oleh Amerika Serikat.

Target Utama: Mata Rantai Pasokan Minyak

Menurut Hamid, ketidakmampuan Amerika Serikat untuk menyaingi efisiensi industri Cina membuat pemerintahan Donald Trump mengambil langkah ekstrem dengan menargetkan sumber energi utama negeri tirai bambu tersebut.

“Bagaimana caranya mematikan industri Cina? Yakni memutus mata rantai pasokan minyak,” ujar Hamid.

Data menunjukkan betapa vitalnya peran Venezuela dan Iran bagi stabilitas energi Cina:

Venezuela: Menyediakan sedikitnya 675.000 barel minyak mentah per hari ke Cina.

Iran: Memproduksi 2,4 juta barel per hari, di mana 95% dari total ekspor tersebut mengalir langsung ke Cina.

Dengan menyerang kilang di Venezuela dan mengganggu stabilitas di Iran, AS secara tidak langsung sedang mencoba “mencekik” mesin industri Cina yang sangat bergantung pada pasokan minyak dari kedua negara tersebut.

Baca Juga:  Makassar Pamer Inovasi Super Apps Lontara+ dan MCH di Forum Internasional

Sedangkan Pengamat Politik, Rocky Gerung menyebut Indonesia diprediksi akan menjadi pusat keamanan global (global security) baru di tengah meningkatnya tensi geopolitik di kawasan Indo-Pasifik. Ketegangan yang melibatkan kekuatan besar seperti Jepang, China, dan Amerika Serikat menempatkan posisi geografis Indonesia pada titik yang sangat strategis.

Ia menilai bahwa visi strategis ini sebenarnya telah dibaca oleh Presiden pertama RI, Bung Karno, sejak awal. Melalui gagasan jembatan Asia-Afrika, Indonesia diposisikan sebagai wadah bagi pemikiran-pemikiran global yang tidak tertampung oleh kekuatan hegemonik Barat.

“Langkah Bung Karno yang sempat mengajukan ide baru sebelum membubarkan PBB pada masanya—melalui Conference of New Emerging Forces (Conefo)—dianggap sebagai upaya menciptakan keseimbangan agar tidak ada dominasi tunggal dalam politik internasional,”katanya.

Baca Juga:  Hangatnya Idulfitri di Makassar, Wali Kota Munafri Serukan Jaga Persatuan dan Saling Memaafkan

Adapun Andi Luhur Priyanto menyampaikan situasi politik di Indonesia saat ini dinilai tengah mengalami tantangan besar yang sejalan dengan tren pelemahan demokrasi secara global atau democratic decline.

Tren Otokrasi Elektoral Global

Dalam paparannya, pembicara menekankan bahwa situasi politik dalam negeri tidak dapat dilepaskan dari kondisi global. Mengutip laporan terbaru dari V-Dem Institute tahun 2026, terungkap bahwa jumlah negara dengan sistem otoriter kini semakin meningkat dan melampaui jumlah negara demokratis.

Fenomena ini disebut sebagai Otokrasi Elektoral, di mana pemimpin memperoleh kekuasaan melalui proses pemilu yang terlihat demokratis, namun dalam praktiknya menjalankan gaya kepemimpinan yang non-demokratis atau otoritarian.

“Pemilu yang demokratis tidak selalu menghadirkan pemimpin yang demokratis. Di banyak tempat, demokrasi justru ‘dicuri’ di kotak suara,”katanya.

Komentar Anda

Berita Lainnya