JELAJAH.CO.ID,Makassar – Pertemuan Tamsil Linrung dengan Anies Baswedan memunculkan spekulasi politik baru. Tamsil menilai peluang Anies mendampingi Prabowo mencapai 60 persen, sementara sejumlah tokoh lain turut disebut dalam skenario hipotetis pengganti Gibran.
Tak hanya Anies Baswedan, Tamsil Linrung turut menyebut Puan Maharani, AHY, Sufmi Dasco Ahmad, Zulhas, Cak Imin, hingga Sultan Bachtiar Najamudin sebagai figur yang bisa dipertimbangkan.
Wakil Ketua DPD RI Tamsil Linrung mengungkap sejumlah nama yang menurutnya dapat dipertimbangkan jika terjadi skenario pemakzulan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Salah satu nama yang mencuri perhatian ialah Anies Baswedan, mantan Gubernur DKI Jakarta yang dinilai berpotensi masuk dalam pembicaraan politik nasional.
Tamsil menyebut sejumlah tokoh dari lingkaran pemerintahan hingga figur di luar pemerintahan. Nama-nama tersebut mencakup Ketua DPR RI Puan Maharani, Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad, Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), serta Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan.
Selain itu, ada pula Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat Muhaimin Iskandar atau Cak Imin dan Ketua DPD RI Sultan Bachtiar Najamudin.
Menurut Tamsil, nama-nama tersebut bisa menjadi bahan pertimbangan apabila skenario pergantian wakil presiden benar-benar terjadi. Namun, keputusan tetap bergantung pada penilaian Presiden Prabowo Subianto terhadap sosok yang dinilai mampu memberikan nilai tambah bagi pemerintahan.
“Apakah nanti Pak Prabowo menilai mereka bisa memberikan nilai tambah, bisa memenangkan hal-hal yang kurang menguntungkan?” ujar Tamsil, Selasa 20 Oktober 2026.
Anies Baswedan Dinilai Punya Peluang
Di luar lingkaran pemerintahan, Tamsil secara khusus menyebut Anies Baswedan sebagai salah satu figur yang layak masuk dalam pembicaraan. Meski demikian, ia mengingatkan bahwa kesediaan Anies menjadi bagian dari skenario tersebut juga perlu dipertimbangkan.
Tamsil sebelumnya bertemu dan berdiskusi dengan Anies pada 12 Oktober 2026. Pertemuan itu menjadi salah satu konteks yang melatarbelakangi pandangannya mengenai peluang Anies dalam dinamika politik nasional.
“Ya, ada beberapa program Presiden dia kritisi, tapi secara umum dia melihat positif aja. Jadi saya beranggapan 60 persen dia bisa mendampingi beliau (Prabowo),” kata Tamsil.
Pernyataan tersebut memunculkan perhatian terhadap kemungkinan komunikasi politik antara kubu Anies dan pemerintahan Prabowo. Namun, angka 60 persen yang disampaikan Tamsil merupakan penilaiannya pribadi, bukan kepastian politik ataupun keputusan resmi dari pihak terkait.
Ganjar Pranowo dan Mahfud MD Ikut Disebut
Selain Anies, Tamsil juga menyebut Ganjar Pranowo dan Mahfud MD sebagai nama lain yang dapat masuk dalam pembicaraan. Kehadiran nama-nama tersebut memperlihatkan luasnya spektrum figur yang berpotensi dipertimbangkan dalam skenario politik tersebut.
Meski demikian, wacana pengganti Gibran masih bersifat hipotetis. Tidak ada kepastian bahwa proses pemakzulan akan terjadi ataupun bahwa tokoh-tokoh yang disebut Tamsil telah masuk dalam pembahasan resmi pemerintahan.
Secara konstitusional, pemberhentian wakil presiden tidak dapat dilakukan hanya berdasarkan wacana politik. Prosesnya harus mengikuti mekanisme yang diatur dalam UUD 1945, termasuk keterlibatan DPR, Mahkamah Konstitusi, dan MPR sesuai tahapan serta persyaratan yang berlaku.
Karena itu, pernyataan Tamsil lebih tepat dibaca sebagai pandangan mengenai kemungkinan konfigurasi politik apabila terjadi perubahan pada posisi wakil presiden.
Apakah Anies, Puan, AHY, atau nama lainnya benar-benar akan dipertimbangkan, semuanya masih bergantung pada perkembangan politik dan mekanisme konstitusional yang berlaku.