JELAJAH.CO.ID,Makassar – Pembatalan cabang olahraga (cabor) sepak bola putri dan futsal putri pada Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Sulawesi Selatan XVII 2026 resmi dicabut. Keputusan tersebut diambil dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) yang digelar di Ruang Komisi E DPRD Sulsel pada Kamis 24 September 2026.
RDP yang mempertemukan Komisi E DPRD Sulsel, Dispora Sulsel, KONI, Asprov PSSI Sulsel, serta perwakilan atlet dan aliansi masyarakat ini membawa angin segar bagi keberlangsungan pembinaan atlet putri di Sulawesi Selatan.
Anggota Komisi E DPRD Sulsel, Andi Nirawati, mengonfirmasi bahwa setelah mendengarkan masukan dari berbagai pihak, cabor sepak bola dan futsal putri dipastikan kembali berjalan dan masuk dalam agenda pertandingan yang berlokasi di Wajo dan Bone.
”Hari ini dari berbagai pihak, dari Kadispora, Dispora, dan KONI menyatakan bahwa cabor futsal dan sepak bola putri dilanjutkan,” ujar Andi Nirawati usai rapat.
Ia menjelaskan bahwa kendala utama yang sempat memicu pembatalan awal adalah persoalan teknis dan manajemen waktu, bukan semata-mata pemangkasan dana. Dengan durasi pelaksanaan Porprov yang terbatas hanya satu minggu serta penggunaan lapangan yang hanya efektif di pagi dan sore hari, penambahan tim putri dikhawatirkan berdampak pada jadwal dan pembengkakan biaya operasional.
”Tapi itu bisa disepakati hari ini, akan dibicarakan secara teknis sehingga efisiensi itu tidak berdampak pada pembatalan salah satu cabor,” tambahnya. Mengenai potensi efek biaya tambahan, KONI dan Dispora bersama pemerintah kabupaten/kota akan menyelesaikan mekanismenya secara internal.
Sebelumnya, penolakan atas keputusan pembatalan tersebut memicu gelombang protes dari para atlet dan Aliansi Komite Pejuang Kerakyatan (KPK). Pimpinan KPK sekaligus Koordinator Lapangan Aliansi, Dandi Ariyanto, menilai surat keputusan pembatalan yang dikeluarkan sebelumnya terkesan subjektif dan tidak transparan.
”Para atlet dan pelatih sudah berjuang melalui tahapan Pra-Porprov, bahkan banyak yang menggunakan anggaran swadaya. Pembatalan sepihak ini sangat berdampak pada psikologis dan ekonomi teman-teman atlet,” tegas Dandi.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal PSSI Sulsel, Ahmadi Djafri, menegaskan komitmen pihaknya yang sejak awal menginginkan sepak bola putri tetap digelar. Menurutnya, potensi atlet putri Sulsel sangat menjanjikan, terbukti dari capaian menembus lima besar pada ajang PON serta adanya keterwakilan atlet Sulsel di Tim Nasional Putri Indonesia.
”Pra-Porprov telah selesai kami laksanakan dan hasilnya sudah dilaporkan ke KONI serta Dispora. Secara pribadi dan kelembagaan, PSSI Sulsel sangat menginginkan pertandingan putri ini dilaksanakan,” ungkap Ahmadi.
Dengan ditetapkannya keputusan ini, seluruh pihak sepakat untuk mengawal jalannya pertandingan agar dapat berlangsung sesuai jadwal dan harapan para atlet muda di Sulawesi Selatan.